Monday, November 28, 2016

Lidya's Profile

Hi Guys, perkenalkan namaku Lidya Febrianty Girsang, bisa dipanggil lidya atau LG (el-ji). El-ji singkatan dari Lidya Girsang. Dulu, sewaktu aku masih SD, ada dua orang yang bernama Lidya, jadi seorang temanku membuat namaku LG. Ok Guys, itu seputar namaku. Let's move to my hometown.

Aku tinggal di Pematangsiantar, tepatnya di Perumnas batu anam. Aku tinggal bersama dengan kedua orang tuaku. Hanya memiliki satu orang adek perempuan yang sekarang sudah menikah dan tinggal di Medan. Kedua orang tuaku adalah guru Bahasa Inggris (mamak atau 'nande') dan guru Seni Musik (Bapak) di salah satu sekolah negeri di siantar ini. Gambar di bawah ini adalah gambar kedua orang tuaku yang selalu mendukung rencanaku dan menjadi penasehat yang baik sebelum mengambil keputusan.


                                  
Keahlian kedua orang tua yakni guru ku di turunkan kepadaku. Setelah menamatkan diri dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Pematangsiantar, aku melanjutkan studiku ke Bandung dan kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia. Kurang lebih 4 tahun 3 bulan aku menimba ilmu disana dan aku meraih gelar S. Pd. Aku sangat menikmati hari-hariku selama di Bandung, sehingga berpisah jahu dengan keluarga tidaklah menjadi tantangan besar bagiku. Aku berdiri di sebelah kiri bersama dengan teman-temanku seperjuangan. Masa-masa sulit selama kuliah dulu sudah kami lewati bersama, sehingga senyuman  yang indah menjadi bukti nyata.



Setelah lulus S-1, saya bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak dalam jasa pendidikan ke luar negeri. Kurang lebih tiga bulan saya bekerja disana, banyak sekali informasi-informasi tentang kuliah ke luar negeri yang saya dapatkan. Namun keinginan untuk melanjutkan sekolah S-2 sangatlah besar, sehingga setelah 3 bulan, saya berhenti dan pergi ke Yogya untuk mengambil gelar Master disana. Rencana saya untuk mengambil master di UGM ditentang keras oleh orang tua saya, dikarenakan jurusan yang akan saya ambil berbeda dengan jurusan yang saya ambil sewaktu S-1. Sedikit kecewa, tetapi saya tetap berangkat ke Yogja, karena saya sudah mendaftar untuk mengikuti ujian TPA di UGM.

Sehari setelah test TPA, telpku berbunyi dan saya menerima kabar kalau saya lulus seleksi test di salah satu perusahan retail pharmacy terbesar di Indonesia. Memang, sebelum mendaftarkan diri, aku ada mengikuti sebuah test. Akhirnya, aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan bekerja di perusahaan  itu. Bekerja selama 1, 5 tahun juga memberikan pengalaman yang berharga buatku. Aku sangat beruntung karena bisa mengenal berbagai macam obat-obatan yang sering diberikan dokter. Akan tetapi, orang tuaku tidak menyukai pekerjaanku karena jurusanku adalah guru bukan apoteker.


Balik ke kota kelahiran dan bekerja menjadi guru awalnya sangat memberatkan bagiku. Aku sudah sedikit terbiasa dengan kehidupan di ibu kota yang sangat keras tetapi mengasyikkan. Aku mengajar selama 1 tahun di sekolah orang tuaku karena aku bekerja disana untuk merefresh kembali ilmu yang aku dapatkan selama kuliah dulu. Aku melihat masih banyak anak-anak di SMP itu yang sangat kurang mengerti Bahasa Inggris, tetapi niat belajar mereka sangat tinggi. Tidak rela melihat mereka terpuruk di dalam belajar Bahasa Inggris, akhirnya saya membuat kursus gratis bagi mereka. Setelah 1 tahun disana, tugasku mengajar sudah selesai.
Selama 1 tahun, aku menemukan passion yang baru yaitu mengajar. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menjadi guru.

Menjatuhkan lamaran ke sekolah - sekolah dan ketempat bimbel aku lakukan dan akhirnya salah satu bimbel terkenal di Indonesia memberikan kesempatan bagiku untuk bisa berbagi ilmu dengan adik-adik SMA. Bagiku mengajar di sekolah maupun di tempat bimbel memiliki banyak perbedaan. Namun perbedaan itu menjadi pelengkap untuk bisa mendapatkan ilmu secara lengkap. Aku teringat tentang masa-masa yang lalu ketika aku mau mengikuti test SPMB (Saringan Penerimaan Mahasiswa Baru).

Selama 6 bulan disana, aku mendapatkan informasi tentang penerimaan program beasiswa ke Taiwan dari rekan tentor yang lain. Setelah berpikir berkali-kali, aku memutuskan untuk mengambil kesempatan itu. Bagiku kesempatan blom tentu akan datang untuk kedua kalinya. Singkat cerita aku menanyakan prosedur beasiswa itu. Rekan tentorku yang sekaligus teman ketika bimbingan dulu sangat terbuka untuk memberikan informasi-informasi dan beliau memberikan kontak person seseorang yang lebih mengerti tentang persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengambil S2. Segala berkas sudah saya persiapkan. Atas saran dari beliau, saya mengirimkan berkas ke salah satu kampus ternama di Taiwan, yakni National Taiwan University of Science and Technology (NTUST). Setelah pengumuman, saya melihat nama saya tertera di website itu sebagai salah satu penerima Full Scholarship (Penerima beasiswa Penuh). Bersyukur kepada Tuhan karena saya diberikan kesempatan untuk kuliah di Taiwan. Melalui blog ini, saya ingin berbagi pengalaman tentang bagaimana cara mendapatkan beasiswa di Taiwan dan bagaimana kehidupan tentang kuliah disana. So, tetap kunjungi blog saya ya, smoga bisa bermanfaat bagi rekan-rekan semua.



                     Salam,


Lidya Febrianty Girsang S. Pd., M. A.